Nama-nama 34 Provinsi di Indonesia beserta Nama Ibukotanya

Mungkin tidak semua dari kalian mengetahui bahwa Indonesia saat ini memiliki 34 provinsi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Pulau Rote.

Modul PKB Guru SD Kelas Bawah/Awal dan Tinggi/Akhir Kompetensi KK-A s.d KK-J

SIM PKB tampaknya telah benar-benar siap dilaksanakan. Meskipun masih saja terdapat PTK yang mengalami kesulitan dalam melakukan Registrasi dan Login Akun SIM PKB Guru.

Materi MOS/MOPD atau pengenalan lingkungan sekolah tahun pelajaran 2017/2018

Sesuai dengan Pedoman MOS. untuk memberikan kemudahan dan kelancaran pelaksanaan kegiatan di sekolah-sekolah dan menyesuaikan situasi dan kondisi masing-masing sekolah.

Ini Contoh Kreativitas Guru dalam Penguatan Pendidikan Karakter

“Jangan remehkan kreativitas guru. Jangan pesimis. Kita harus optimis,” tegas Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Sumarna Surapranata. Hal itu diungkapkannya terkait kemampuan guru berkreasi dalam menciptakan kegiatan yang mendukung Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Inilah Kaldik TP. 2017/2018 Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2017/2018 Lengkap yang bisa di dpwnload secara grtais

Postingan kali ini yaitu tentang Kalender Pendidikan atau Kalender Akademik atau bisa juga secara akronimnya Kaldik Tahun Pelajaran 2017/2018 sengaja kami bagikan karena untuk memenuhi kebutuhan para sekolah, kepala sekolah, guru. Kalender Pendidikan ini diperuntukan bagi SD/MI SMP/MTs SMA/MA dan SMK/MAK.

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, March 24, 2017

Cerita Rakyat Jawa Barat Sangkuriang

Cerita Rakyat Jawa Barat Sangkuriang - librarypendidikan.blogspot.co.id, Selamat pagi sahabat di mana saja berada. Pagi ini kami akan berbagi tentang sebuah cerita yang berasal dari daerah Jawa Barat dengan judul "Sangkuriang".
Inilah Kisahnya/Dongengnya  :
Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu.
Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.

Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan.
Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembaraSetelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan memiliki kecantikan abadi.

Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya. Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya.

Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan.

Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.

Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.

Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.

Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu."
 
Sampai di sini dulu artikel yang dapat kami bagikan. Semoga bermanfaat.

Friday, February 10, 2017

Contoh Puisi dan Cerpen


Contoh Puisi
Kemana ku kan Pergi
Karya: Dwi Pommy Pebrianti
Kelamnya mentari
Petanglah kemari
Disaat sanubari
Tenggelam menyendiri
Kemana ku kan pergi?
Melangkah pun tak pasti

                        Ku gapai langit tinggi
                        Terjatuh pula akhir
                        Samudera luas menanti
                        Namun menghilanglah air
                        Kemana ku kan pergi?
                        Melangkah pun tak pasti

Serdadu berjajar rapi
Membatasi tembok tinggi
Kemana ku kan pergi?
Melangkah pun tak pasti

                        Datanglah cahaya suci
                        Membawaku menjelajahi
                        Indahnya diri
                        Berpadu harumnya kasturi
                        Tiada lain Kuasa Ilahi
 

=======================================================
Contoh Cerpen 
Karbon Dioksida
Karya: Dwi Pommy Pebrianti
Aku rasa, semua orang satu suara tentang hal ini. Kita, manusia gak bisa hidup tanpa udara. Gak bisa hidup kalau gak ada oksigen. Tapi, aku rasa aku bukanlah satu diantara semua suara itu. Menurutku, kita gak bisa hidup kalau karbon dioksida gak ada. Kenapa? Kita dapat oksigen dari mana? Tumbuhan. Tumbuhan menghasilkan oksigen harus ngerubah apa dulu? Karbon dioksida. Dan dia membantuku kembali berpijak pada bumi. Iya, dia. Sebuah Karbon. ***
Berpisah dengan orang terdekat memang mengerikan. Berada di antara orang-orang baru dan gak tahu harus bagaimana, itu menyulitkan. Namun hal ini tak akan menyurutkan semangatku untuk mendapatkan predikat  juara satu (lagi). I can. Cause I think I can.
 Ngomong-ngomong, dia, iya dia, orang yang pernah ku temui di masjid sekolah semester lalu, se kelas denganku?
***
“Dwi, kamu nanti jadi MC, ya?” pinta ketua Osis padaku, aku mengangguk.
“Oh iya, sama Aldri!”  tambahnya. Aldri? Kenapa harus sama Aldri? Ku tatap dia lekat-lekat. Namun, aku tak tahu kenapa tiba-tiba kami tak jadi dipasangkan.
***
Iya, itu dia, namanya Aldri. Sesosok mahkluk berkacamata, berperawakan sedang, dan cukup manis, aku rasa!  Tapi, kok ini anak aneh banget, ya! Lebih banyak diam ketimbang bicara. Bahkan bisa dibilang gak bicara sama sekali. Aneh!
Pernah suatu hari sebelum pelajaran di mulai, ku dapati dia sedang membaca buku. Rajin, pikirku. Aku tersenyum. Posisi duduknya di belakang, membuatku leluasa untuk memperhatikannya.
“Win, Loe kenapa senyum-senyum sendiri?”
“Hah, iya?” Aku tersentak. Rupanya Indah dari tadi memperhatikanku yang sedang aneh ini.
“Ah, nggak!” jawabku sambil merubah posisi duduk ke arah depan.
Setelah hari demi hari ku perhatikan, dia memang berbeda. Entahlah, aku tak bisa menjelaskan apa yang sedang ku rasakan.  Namun saat melihatnya, aku tak tahan untuk tidak tersenyum.
Satu bulan aku dan Adri satu kelas. Dalam kurun waktu satu bulan Aldri memang tetap diam. Tapi, ketika jam pelajaran di mulai, dengan lihai nya dia menarik semua perhatian guru. Terutama saat pelajaran kimia. Saat itu rasa takut tersaingi lebih dominan daripada rasa suka yang sudah lama meranum.
Hari itu, kami sedang belajar kimia. Duh, tak bisa ku gambarkan betapa kesalnya aku pada si Aldri. Hmm, sebenarnya Aldri gak salah. Hanya saja kenapa Bu Guru selalu menyebut nyebut namanya? Sedikit-sedikit pasti Aldri.
“Dasar Karbon!” celetuk ku sambil memukul meja.
“Astagfirullah, Dwina, istigfar! Lagian juga kalau Lo suka sama kimia, jangan se antusias, gitu, kenapa?” Indah yang duduk di samping ku sedikit marah.
“Lo gak nyadar apa, yang suka kimia tuh bukan gue, tuh si Karbon!” tungkas ku sedikit kesal.
“Oo, maksud Loe, Aldri, Win?” Indah mangut-mangut. 
“Ya, iyalah! Badan penuh karbon kaya gitu, mana mungkin gak suka pelajaran kimia!”
“Eh, Loe jangan ngehina gitu, dong!” balas Indah kepadaku dengan serius.
“Becanda kali. Ah, udah ah! Gue mau cabut ke kantin!” segera ku langkah kan kaki ku menuju kantin. Indah juga ikut. Dia udah biasa kena imbasnya kalau aku sedang kesal. Satu hal yang ku suka dari Indah, dia gak pernah sampe marah kalau lagi kayak gini. Maklum, dari SMP kita bareng-bareng.
Tiba-tiba...
Daakkk. Aku bertubrukkan dengan seseorang.
“Maaf, maaf” katanya,  berusaha menolongku yang sudah terjatuh ke lantai dengan buku yang berserakan dimana-mana, yang pasti itu bukan punyaku. Saat ku dongakkan kepala,
“Aldri?”
“Dwina? Maaf- maaf, saya tadi buru-buru. Jadi saya gak sempat lihat kamu!” tak sepatah kata pun keluar dari mulut. Cepat-cepat aku berlari dan meninggalkan Aldri yang diam mematung menatapku dengan rasa bersalahnya.
***
Satu minggu setelah kejadian si Karbon menubrukku. Ya, sekarang panggil saja dia Karbon, aku sudah terlampau kesal.
Hari ini, hari Senin. Guru bahasa Indonesia menyuruhku untuk menyimpan buku tugas anak-anak ke ruang guru. Setelah ku dapati mejanya, ku simpan setumpukkan buku bersampul cokelat itu di atasnya.
“Aldri..” seorang guru memanggil nama yang sudah tak asing lag. Yap, si Karbon.  Ternyata beliau guru matematika.
“Aldri, kamu mau ikutan olimpiade matematika?” aku terperangah. Begitu mudahnya beliau menawarkan tiket berharga itu. Tiket yang ku idam-idamkan sejak dulu.
“Tidak, Bu.” jawab Aldri sesingkat mungkin.
“Lho, kenapa? Ibu lihat kamu pintar sekali dalam pelajaran matematika.”
            “Tidak, Bu, saya tidak minat pada matematika. Minat saya pada kimia.” Apa? Si Karbon itu? Bisa-biasanya dia ngomong kaya gitu. Dasar rese! Segera ku tinggalkan ruang guru dengan perasaan kesal yang tertinggal. Tanpa sadar, aku berpapasan dengan si Karbon di luar. Di luar dugaan, dia menghentikanku
“Dwina, kamu belum maafin saya.” What? Ini Karbon bisa minggir gak sih, sejak kapan dia suka ngomong sama orang?
“Udah gue maafin” jawabku sambil berlalu meninggalkannya. Dia mencegatku
“Kamu kenapa? Kamu gak suka sama saya? Kalau ini karena saya waktu itu gak sengaja nubruk kamu, saya kan sudah minta maaf”
“Loe tuh ya! Dari awal kita se kelas, Gue udah gak suka sama loe!”
“Memang salah saya apa?”
“Loe nanya salah loe apa? Loe tuh belagu. Loe tuh so deket sama guru,so pinter! Sampe- sampe tawaran olimpiade aja loe tolak! Gue gak suka sama loe, semua guru loe curi perhatiannya. Gue benci!” Setelah aku selesai bicara, Aldri diam tak bergeming. Perlahan dia membalikkan badan dan berjalan meninggalkanku.
“Dasar Karbon!” Teriak ku kesal. Aldri yang sudah berjalan cuku jauh berbalik arah dan berjalan mendekatiku..
“Terimakasih sudah tidak menyukai saya. Tapi maaf, saya sama sekali tidak membencimu.”
Aku terdiam. Kenapa malah aku yang merasa di tusuk belati? Kenapa dia gak marah?
***
Hari demi hari ku lalui, ulangan demi ulangan saling bergantian menyapa. Kenyataan yang harus selalu ku terima adalah selalu menjadi yang kedua setelah si Karbon. Hingga satu semester berlalu, kenyataan pahit yang ku dapatkan. Menjadi nomor dua untuk ke sekian kalinya setalah si Karbon.
Semua orang sudah pulang, hanya aku seorang yang masih tinggal. Duduk di sudut pojok kelas tak lama kemudian aku menangis. Aku tak kuasa menahan semua ini, untuk pertama kalinya aku mendapat peringkat dua. Kenapa begini? Apa aku kurang berusaha? Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menjadi yang pertama. Kenapa?
Tak berselang lama, terdengar suara pintu kelas di buka. Itu dia, sang juara kelas. Diaa datang menyambangiku. Entah, mungkin hendak memamerkan kemenangannya.
“Selamat” Aldri Karbon itu berdiri di depanku.
“Apa, Loe? Mau pamer?” kataku sambil mengusap pipi yang sudah basah karena hujan deras yang diproduksi oleh mata.
“Kamu tahu  bedanya kamu sama saya?” Diam. Tak ku jawab pertanyaannya.
“Kamu terlalu di perbudak oleh ambisimu. Kamu belajar untuk memenuhi ambisi besarmu itu. Segala cara aku lakukan untuk memenuhinya. Dampaknya kamu gak bisa menerima kenyataan bahwa masih ada langit di atas langit. Jiwamu tak bisa berdamai dengan kerendahan hati.” Aku diam membisu. Semua yang Karbon itu ucapkan seolah anak panah yang tepat mengenain sasarannya. Hatiku.
***
Dua tahun berlalu, hari ini adalah hari bersejarah. Tiga tahun mengeyam pendidikan di bangku SMA, akhirnya hari ini aku lulus.
Aldri Karbon itu tentu saja menjadi lulusan terbaik. Aku? Aku lulusan terbaik setelahnya.
“Selamat ya, Karbon!” bisikku padanya.
“Kamu juga, Dioksida!” Aldri senyum padaku.
***